Oleh: fickarl | Juli 15, 2008

Akulah Sufi yang Dibunuh Tuhan

Akulah sufi yang mereguk mabuk bersama cawan zikir

Yang kemudian menjadi ranting yang patah

Saat seekor pipit singgah melepas lelah

Kutanggalkan jubah

Setelah tumbuh yakin

Jubahku membuat aku tidak nyaman selami segara ma’rifat

Kutapaki lagi bumi basah

Dengan kaki telanjang aku menuju-Nya

Kukira ia ada di benua seberang

Zikirku tak sederas abad-abad lalu

Hanya menggema hingga pada sel kecil tepian hati

Tetapi, kemabukan ini begitu indah, aku belum ingin mati

Sang sufi belum ingin tersadar

Karena kesadaran telah mati dalam definisi

Maka kubiarkan tubuhku semakin berdaki

Tuhan telah membilas tubuh ini dengan salju-Nya

Hingga hidungmu tak tertusuk busuk

Bidadaripun jatuh cinta pada aroma kesturi dari keringat sang sufi

Inilah cinta para sufi

Telanjanglah dari semua pernik baju mahalmu

Cahaya-Nya akan membunuhmu tanpa mengenal musuh

Padamkan lampu-lampu kamarmu saat malam tiba

Toleh saja cahaya-Nya, cahaya yang takkan padam oleh belai angin

Menarilah dalam kemabukan ini, hingga kau benar-benar terbunuh

Meulaboh, 12 Juni 2008

Oleh: fickarl | Juli 15, 2008

Pelangi Belum Patah


pelangi belum patah
oleh tabrakan layangan anak-anak yang nikmati senja di pematangan sawah basah
atau camar-camar yang mendesah resah

dan kamboja yang berdiri sangar menepis gundah

pelangi belum patah
belum meretak lelah
tidak juga mendesah, tak ada kilah

aku merias petang yang ingin pulang
hingga langit tidak meriang
mungkin besok aku sudah tidak lagi datang

Oleh: fickarl | Juli 15, 2008

Prim, Puisi Kita Belum Selesai

Dedicated to: Prima C

Belum penuh tumbuh sayap camar

Tapi senja masih tetap terlihat indah menikam detik silam yang sangar

Dan seulas senyummu telah membuat aku tergelepar

Telah kucoba bicara bersama puisi yang menjadi bunga

Untuk yakinkanmu bahwa keindahan bukan sajak dusta

Ia akan merasuk penuh menjadi nyawa

Bencana adalah bila matamu hanya melihat matahari yang sudah pulang

Ketika kemarin malam angkuh menghadang

Seharusnya kita tidak perlu meradang garang

Biarkan kakimu mengalun menjadi melodi sejuk belantara salju

Melupakan sejenak cerita silam yang nyaris membunuhmu

Besok pagi aku masih bisa untuk menjemputmu

Meulaboh,8 Juli 2008

Oleh: fickarl | September 19, 2007

Jakarta: ini rencongku

rencongku tak lagi tersemat di balik pinggang

rencongku tidak akan terhunus

rencongku takkan menikammu

rencongku takkan merobek dadamu

rencongku takkan memotong lidahmu

selama, kau tidak angkuh mengusikku melangkah ke meunasah-meunasah gampong ku

selama, kau tak berbusung dada pada senyuman yang kami tebar

selama, kau tak serakah merampas periuk di dapur-dapur kami

selama, kau tak membakar kupoek-kupoek kami

selama, tidak kau pantati kupiah-kupiah kami

selama, kau tidak mengganggu kami bercanda dalam lumpur-lumpur sawah kami

karena rencongku adalah harga diri

Meulaboh, 190907

note

kupoek: lumbung padi

Kupiah (kupiah meukeutop): Kopiah adat, simbol kebanggaan masyarakat Aceh

Oleh: fickarl | September 18, 2007

pada belukar di kulit dadaku

sedang ku coba menebang belukar menyemak di balik kulit dadaku

menebang, menebas

terus, percikkan peluh ke ujung-ujung tangga meunasah

menyiram daki di sajadah-sajadah

——————————————————

note

meunasah: Bahasa Aceh untuk menyebut Musholla, Langgar

Oleh: fickarl | September 18, 2007

aku, adikku dan belukar

pangkas habis belukar itu, kak..
dengan tangan kananmu yang terkepal
sapu bersih gulitanya
hingga cahayanya menyoroti muka
kelak,di ujung jalan sana,kak…
ada mata air yang membasuh peluhmu

Oleh: fickarl | September 9, 2007

bersama tulip aku akan datang

sudah ku rangkai sekantung bunga tulip

besok pagi ku antarkan ke pintu kamarmu

ku hancurkan pintu depan rumahmu

aku tidak suka berdiri saja di beranda

angin pagi pasti membuat aku menggigil sayang

ku patahkan kayu-kayu dipan di kamarmu

nanti malam kita tidur di bawah tatapan bintang

tidak perlu beralas kasur

dan ku keluarkan angkuh membatu hatimu lewat bibirku

sampai kau tidak lagi mengerutu

Meulaboh, 9907

Oleh: fickarl | September 9, 2007

demi bunga-bunga

berhembuslah wahai angin-angin

agar leluasa merekahlah bunga-bunga

belenggulah birahi para lebah wahai siapa kuasa

agar bumi tidak lagi gersang dengan keindahan bunga

telusupi dinginmu wahai salju

tembusi dada-dada yang kepanasan

turunlah ke bumi wahai para bidadari

usapkan kehalusan tanganmu di pundak-pundak mereka 

yang besok pagi harus kembali berlari

pada malam aku juga tidak membisu

padanya ku puisikan damai, agar mata-mata yang terpejam tak di bunuh oleh mimpi-mimpi tragedi, umpatan, caci dan sepi abadi

Meulaboh, 6907

Oleh: fickarl | September 9, 2007

darah hitam dan air pancuran

jangan tanyakan, erat tanganku yang cengkeram pundakmu

ke tepi pantai, kau akan ku bawa

tapi, aku takkan jelaskan padamu

tak ada senyum di mukaku jenuh

jangan ada suara

aku tak butuh kata-katamu

……………………

kita sudah tiba gadisku

jangan lihat aku

toleh saja ke deburan ombak sana

biar saja tidak ada warna

karena aku tak bisa mengusir malam

tatap saja

adakah sesuatu yang terlihat di sana ?

Gelap bukan ?

…………………….

kau, kenapa pekatkan hatimu

…………………….

mari, ikut aku lagi

ke pancuran ku bedah dadamu

besok siang takkan ada lagi darah hitam di hatimu

…………………….

air pancuran semalam sudah pergi

entah ke benua mana, akupun tak tahu

lihatlah, tak ada lagi kusut di matamu

Meulaboh, 9907

Oleh: fickarl | September 8, 2007

Catatanku Catatan Asa

Catatanku adalah kumpulan cerita- cerita suram

Tentang kedunguan, dosa- dosa hingga tragedi

Yang nyaris pudarkan cahaya asa mataku

Dan itulah yang akan hadir di hadapan- Mu Tuhan

Jika…………. detik ini Kau panggil aku……………….

Jika……….. ketika ku terbangun esok pagi

Dan napasku masih menandakan aku masih hidup

Sisip tetapkan jiwa suci

Ke dalam seluruh urat- uratku

Nama- Mu abadi dalam zikir dan gerakku

Energiku lebur dalam suci nama- Mu

Angkuhku musnah dalam keperkasaan- Mu…………………………… 

Aku pernah nyaris menyerah dalam kalah

Dan kini ku akan berikan napas- napas ini Pada- Mu

Hingga ku bersemadi di balik nisanku………..

Aku terlepas dari murka- Mu

bersama senyuman yang tak pasi

Tulisan Sebelumnya »

Kategori