Akulah sufi yang mereguk mabuk bersama cawan zikir
Yang kemudian menjadi ranting yang patah
Saat seekor pipit singgah melepas lelah
Kutanggalkan jubah
Setelah tumbuh yakin
Jubahku membuat aku tidak nyaman selami segara ma’rifat
Kutapaki lagi bumi basah
Dengan kaki telanjang aku menuju-Nya
Kukira ia ada di benua seberang
Zikirku tak sederas abad-abad lalu
Hanya menggema hingga pada sel kecil tepian hati
Tetapi, kemabukan ini begitu indah, aku belum ingin mati
Sang sufi belum ingin tersadar
Karena kesadaran telah mati dalam definisi
Maka kubiarkan tubuhku semakin berdaki
Tuhan telah membilas tubuh ini dengan salju-Nya
Hingga hidungmu tak tertusuk busuk
Bidadaripun jatuh cinta pada aroma kesturi dari keringat sang sufi
Inilah cinta para sufi
Telanjanglah dari semua pernik baju mahalmu
Cahaya-Nya akan membunuhmu tanpa mengenal musuh
Padamkan lampu-lampu kamarmu saat malam tiba
Toleh saja cahaya-Nya, cahaya yang takkan padam oleh belai angin
Menarilah dalam kemabukan ini, hingga kau benar-benar terbunuh
Meulaboh, 12 Juni 2008